Ongkos Logistik Masih Tinggi, Harga Pangan Sulit Turun

    Jum'at, 01 April 2016 | 13:48 wib
    Pedagang Pasar

    Jakarta -Pemerintah telah memangkas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dan solar sebesar Rp 500/liter.

    Namun, kebijakan ini belum berdampak ke harga pangan yang terpantau stabil tak ada penurunan.
    Sebaliknya, harga pangan justru cepat naik saat harga BBM naik, bahkan saat masih dalam tahap rencana.

    Mantan Menteri Koperasi dan UKM pada era Kabinet Reformasi Pembangunan, Adi Sasono mengungkapkan, ada masalah mendasar yang membuat kondisi tersebut terus berulang.

    "Ini ada problem di tata niaga yang menyebabkan terjadinya kesenjangan harga di tingkat petani dengan harga yang diterima konsumen," ujar dia kepada detikFinance ditemui di sela acara Agrinex Expo 2016 di JCC, Jakarta, Jumat (1/4/2016).

    Problem utama dalam masalah tata niaga di sektor pertanian, sambung dia, terkait masih tingginya biaya logistik di tanah air.

    "Ongkos logistik di Indonesia masih terlalu tinggi. Meski sudah turun dari 27% menjadi 23%, tapi ini masih relatif tinggi. Jauh lebih tinggi dibandingkan Jerman atau pun Singapura yang hanya 9%," jelas dia.

    Selain masalah tata niaga, sambung dia, ada juga masalah berkaitan dengan tingkat produktivitas produk pertanian. Hal ini berkaitan dengan masih rendahnya pemanfaatan teknologi dan modernisasi alat-alat pertanian.

    "Akibatnya produktivitas pertanian kita masih rendah. Contohnya saja beras. Produktifvtas beras kita hanya 6 ton per hektar. Negara lain seperti vietnam sudah bisa 10 ton per hektar," kata dia.

    Berkaitan dengan produktivitas pertanian, kondisi yang mempengaruhi juga adalah rendahnya kolektivitas usaha pertanian. Artinya, kegiatan pertanian masih dilakukan secara sendiri-sendiri oleh masing-masing petani.

    Padahal, luas lahan pertanian yang mereka miliki tergolong minim.

    "Rata-rata petani kita punya sawah 0,3 hektar. Ini membuat ongkos pertanian per unit menjadi mahal. Ongkos merawat sawah yang 1 hektar dan yang cuma 0,3 hektar tentu berbeda. Makin sedikit makin mahal," tutur dia.

    Masalah terakhir adalah terkait dengan rendahnya daya tawar petani akibat minimnya fasilitas penyimpanan.

    "Padahal kalau kita punya fasilitas penyimpanan seperti silo (lumbung) atau cold storage (lemari pendingin), ketika harga jatuh petani bisa melakukan tunda jual, baru dia jual saat harga stabil," kata dia.

    "Kalau sekarang kan nggak, petani akan jual harga berapa pun karena kalau mereka tunda, besok harganya sudah makin jatuh sampai 50% karena busuk atau rusak. Kalau mau tunda jual kan syaratnya barang nggak boleh rusak. Nah pakai silo atau cold storage itu supaya harga nggak rusak," kata dia.

    Kondisi ini dianggap membuat kegiatan usaha pertanian di Indonesia menjadi kurang kondusif sehingga membuat pelaku usaha di tiap-tiap tingkatan berupaya untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dan mendorong para pelaku menunda penurunan harga meskipun sejumlah komponen seperti harga BBM sudah terlebih dahulu mengalami penurunan

    Source : http://finance.detik.com/


    artikel ini telah dilihat sebanyak 924 kali
    Kadin Kabupaten/Kota
    • Sidoarjo web
    • Mojokerto
    • Jombang
    • Bojonegoro
    • Tuban
    • Lamongan
    • Madiun
    • Magetan
    • Ngawi
    • Ponorogo
    • Pacitan
    • Kediri
    • Nganjuk
    • Blitar
    • Tulungagung
    • Trenggalek
    • Malang web
    • Pasuruan
    • Probolinggo
    • Lumajang
    • Bondowoso
    • Situbondo
    • Jember
    • Banyuwangi
    • Pamekasan
    • Sampang
    • Sumenep
    • Bangkalan
    • Gresik
    • Kota Batu